Tirpitz mulai dioperasikan pada tahun 1942 atau satu tahun setelah Bismarck tenggelam. Kapal ini disiagakan di Fjord Norwegia. Tetapi pada masa itu, armada permukaan Jerman telah melewati masa jayanya dan Tirpitz hanya berperan kecil dalam menyerang konvoi kapal Sekutu. Salah satu aksinya adalah pada 27 Juni 1942 Tirpitz bersama dengan Admiral Hipper, Admiral Scheer, Lutzow dan sembilan kapal perusak berhasil menenggelamkan puluhan kapal-kapal dalam konvoi PQ-17. Uni Soviet, dalam serangan terhadap konvoi PQ-17, mengklaim berhasil merusak Tirpitz dengan 2 buah torpedo yang diluncurkan dari kapal selam K-21 dibawah komando Nikolai Lunin. Setelah operasi ini berakhir, Tirpitz segera kembali lagi ke Fjord. Salah satu alasan mengapa Tirpitz cepat kembali ke pangkalannya setelah operasi selesai adalah para petinggi AL Jerman tidak mau ambil risiko kehilangan kapal perang besarnya, karena Jerman pada waktu itu hanya memiliki kapal perang yang jumlahnya sangat terbatas. Tirpitz menghabiskan waktunya di perairan Fjord selama PD II berlangsung.
Tirpitz juga digunakan sebagai floating battery (meriam pertahanan terapung) yang bebas bergerak dan memberikan bantuan tembakan untuk membantu Wehrmacht dan sebagai alat penggertak armada laut Inggris yang berakibat kapal-kapal perang Inggris yang besar seperti King George V, Rodney dan sebagainya hanya bisa mengamat-amati aksi Tirpitz di perairan Norwegia, sehingga kapal-kapal utama AL Inggris tidak bisa memberikan perlindungan terhadap kapal-kapal dagang. Hal ini berakibat kapal-kapal dagang tersebut menjadi mangsa empuk U-Boat (kapal selam Jerman).
Pada tahun 1944 Tirpitz sudah tidak bisa berlayar lagi karena Jerman sudah kekurangan bahan bakar akibat pengeboman udara oleh Sekutu, tetapi hal ini sangat dirahasiakan oleh pihak Jerman. Sekutu Inggris dan Amerika berkali-kali berusaha untuk menenggelamkan Tirpitz karena ia dianggap masih merupakan ancaman dan merupakan kapal perang besar milik Jerman yang terakhir. Berbagai macam pesawat pembom maupun pembom tempur seperti Mosquito, pesawat amfibi Short Sunderland dan B-17 Flying Fortress dikerahkan untuk melenyapkan Tirpitz, tetapi usaha itu belum membuahkan hasil. Baru pada 12 November 1944, AU Inggris mengerahkan pembom Avro Lancasters yang dipersenjatai dengan bom Tallboy untuk membobol lambung Tirpitz.
Pada serangan ini, tiga bom Tallboy yang dilepaskan dari pesawat mengenai bagian tengah Tirpitz kemudian meledakkannya. Setelah itu, kapal perang Jerman yang terakhir ini mulai miring dan tenggelam bersama 1000 orang awaknya. Sebanyak 700 orang awaknya berhasil diselamatkan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar